Wednesday, 19 January 2011
Monday, 17 January 2011
experiencing live abroad, by Uma Hapsari
Profile: Renung Kinanthi 64, Nanyang Technological University in Singapore
Siapa tidak kenal Genius Padmanaba 64 yang satu ini, Renung Kinanthi. Katanya, “aku termasuk orang yang average, kaya anak2 laen pada umumnya. Ga gitu bisa musik dan olahraga, jadi ngandalin akademis doang.” Tetapi justru fokus terhadap kehidupan akademis itulah yang menjadi pedang dalam meniti masa depannya yang cerah! Pertengahan tahun 2009, Renung resmi membanggakan almamaternya dengan menyandang predikat anak didik sebuah universitas impian, Nanyang Technological University Singapore. Berita baiknya bukan hanya terhenti disitu saja: kuliahnya disubsidi. Bantuan dari pemerintah Singapura tersebut tentu saja menjadi salah satu pertimbangan Renung untuk menentukan pilihan finalnya, “Ortu nggak mau aku kuliah di Indo, dan Singapurlah yang paling deket. Senior juga udah ada yang disini, jadi semuanya lebih gampang. Pertimbangan yang laen ya karena di sini ada subsidi dari pemerintah jadi ga gitu berat bayarnya”.
Sebelum benar-benar menginjakkan kakinya ke Singapore, bayangan Renung tentang negri ini adalah ‘banyak bulenya’. Sekarang, Renung memukan Singapura sebagai sebuah Negara dengan multikulturalisme tinggi yang terutama membawa manfaat baginya untuk bisa menjalin pertemanan dan koneksi ke berbagai penjuru dunia. Selain itu, mantan anggota Ninjitsu ini mengagumi Singapura sebagai kota yang ampuh: kecil, padat dengan iklim yang hampir sama dengan Indonesia, namun fasilitasnya ampuh dan tergolong murah misalnya perihal transportasi, serta banyaknya peluang beasiswa. Satu lagi kelebihan mumpuni yang ditawarkan Singapura, yakni solidnya organisasi perantau asal Indonesia. Dengan begitu, kemudahan dan pertolongan pun akan lebih mudah dicari.
Meskipun begitu, kelebihan-kelebihan tersebut ternyata bukan menjadi tujuan akhir seorang Renung. Ketika ditanya tentang rencana ke depan, dia menjawab, “Kerja dulu disini 3 taun, atau kalau duit memungkinkan ambil S2. ga akan stay lama2 disini, kalau bisa ke Jepang atau Eropa!”. Yes You Can, Renung Kinanthi!
Profile: Josephine Vanda Tirtayani 64, Leceister University in United Kingdom
“I know I am not wrong,” begitu paparnya tegas ketika ditanya mengenai keputusannya yang begitu berani menimba ilmu jauh sampai ke negri Inggris! Lanjutnya, “Challenging, would one of a good way to describe UK. I had a totally different environment here, from sink in the toilet to university live”.
Keputusannya seorang Josephine Vanda Tirtayani untuk terbang 16 jam ke Inggris pun bukan tanpa proses yang begitu saja. Mulanya Vanda begitu yakin melanjutkan studi ke Australia, sebagaimana banyak siswa menjatuhkan pilihan mereka. United Kingdom, justru belum pernah muncul dalam mimpinya dikarenakan satu asumsi umum: that would be very expensive! Tetapi rasa penasaran Vanda membawanya melihat lebih detail tentang perbandingan biaya kuliah, and it wasn’t too bad actually! Karena ternyata, biaya yang dikeluarkan untuk ke Inggris adalah sama banyaknya dengan jika ia harus memilih tiga tahun mengenyam pendidikan sarjana di Australia! Dan lagi, jumlah orang Indonesia di Inggris yang lebih sedikit ketimbang di Australia akan mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya menjadi jauh lebih baik, “And it was proved when I just met 7 Indonesian people 7 months after I lived in my first city, Brighton. Well some people might say this is not a good situation to have, but I am quite happy to live surround by many people from distinct countries and backgrounds. I just love it”.
Vanda menyebut Leicester University, tempatnya menimba ilmu, sebagai tempat yang fantastis: peringkat ke 16 dari seluruh universitas di Inggris, keberadaannya yang jauh dari kota membuatnya justru menjadi sangat kondusif untuk belajar, dan pula tidak begitu jauh dari Birmingham dan (ehm) London yang stunning! Ada lagi bonus sekolah di Inggris, yakni kesempatan untuk travelling! Paris, German atau Amsterdam hanya sekitar dua jam perjalanan, dengan transportasi yang begitu mudah diakses! “Trust me, you won’t regret!” katanya, promosi.
Satu yang begitu menjadi kendala: the horrible weather! Disamping itu, mungkin beberapa konsultan akan menyarankan A level untuk memulai acara belajar di Inggris. Artinya, siswa dianjurkan untuk meninggalkan masa SMA sebelum tahun kedua. Tetapi Vanda punya rekomendasi yang lain bagi yang mempertimbangkan cara tersebut, “To all my Padmanaba brothers and sisters.. having another year or two years repeating kind of the same degree in the UK later is worth having to compare with every single thing you would get in Padmanaba. All those friendships, experiences, networking things, knowledge, and courage, important and unimportant things you would have are just such gorgeous things to have in life. Sometimes I think that I would not be able to survive here if I did not choose SMA N 3! Now, I feel like it just a perfect match to have even though I am a year left behind now,” kata Vanda yang baru memulai kuliahnya pada tahun 2010, ketika yang lain telah memulai setahun lebih awal.
Written by Uma Hapsari
discomfort in the air
I don’t know if I ever felt this before. Maybe I had, other way I forgot. So here I am, 38,000 feet away from the ground on my way to get back to the UK. 8 hours from Jakarta to Dubai was totally fine. Thanks for my tired body where fortunately I could sleep all the time. The other way half way, now, is…. So hurdled. I have no idea what kind of feeling is this exactly. But this discomfort makes my head warm; or too hot indeed, my tummy ache, and none of my bone can stand still. What I am sure of, it is distracting. Well, it is not that I become so dumb that I couldn’t do eat, sleep, read, and other things like I normally do in my flights. So this strange felling is burdening me. I will simply call it ‘discomfort in the air’.
One thing I know for sure, there is something missing yet different inside. I am sick of telling my self that everything will be fine when I know they are not. Problem is, I usually have someone to talk whenever I am not feeling well. But here, inside this big aircraft far above Munich, I have to deal with myself. I did not expect this would happen, though. Everything was really fine before I entered this plane. The theory was… I am not in love and so I have nothing to be worried. But my body seems disagree, like physically and makes this strange feeling even worse because I can’t feel anything like almost suffocate. Until I realize, that I could not tell lie to my self. That I am yearning you badly and part of my body wants to stay with you. All those imperfections, impossibilities, passions to stand still, fake strengths were discounted because of you. Just to be able to spend more time, no matter how tiny they are. All those priceless time.
I sigh several times and wonder if you also feel the same like I do now. And how we are going to work this out. I have tried to prepare myself with my strongest thought and stick with my plan. But here I am, complaining how unfair is this circumstances for me. Maybe for us, if you are agree with me. Well, they say all is fair in love and war. I cannot really accept them for now. I finally give up and open my small savior note book, grab my pen and letting both of them dancing together, creating a new dance of writing and hoping that they would cheer me up a little bit :)
Written literally in the air,
For my unpredictable one
16th of January, 2011
Saturday, 3 July 2010
the rule of shopping by me
1. Don’t buy stuff because they are cheap or on sale, in the other hand, afford and buy things that you are really dying wanted to even though they are amazingly expensive
2. Distinguish NEED and WANT. Just admit it if you want
3. If you accustomed to get things you want, think how would it feel when you couldn’t get what you want
4. Think and remember stuffs that you had already at home. Bunch of shoes, bunch of clothes, pile of bags, and many others
5. Hard to decide? Leave it for couple of days and if you still thinking about it every time, then have it (be honest yaa)
6. Why don’t you save the money instead? :D
Wednesday, 12 May 2010
Gratefulness
Thank you for everything. For the late chat, calls, laughs, jokes, those ‘alien’ words, and opening my eyes, that internet is not just Facebook, and Twitter :p . Thanks for the ‘business’ things we did, and helping me with its problems (which actually never gone), haha . Looking forward to bringing you another problems :D. Then beautiful days we had, and the time (relatively shorts times) we made up. The stupid silly goofy things I made, but then I learn not to regret what I’ve done. Thank you for remind me that I am more than what I could be actually, but I was just slipped and forget for a while who am I and my dreams.
Thank you for bringing me up in d top of happiness and knocked me down to the bottom of hell and show that life has two sides. Thank you for showing me that money is not always the things that give you bliss, in fact, loving and being loved is more precious (but don’t forget, we still need money tough.lol). Thank you for the (little) hart break-with no heartache (I promise :D). Thank you for depicting mean of love beyond its own meaning. Thank you for telling me not to give up easily in any ways. Including not to give you up (but then in this case I did):)
However, this is the amazing bit, thank you for pointing me to think from outside the box-how it feels if you were actually someone else, how I shall not selfish, accepting and be humble. To listen and see things closer in details, and not to judge things easily.
And after all those sweet things, thank you for letting me go, to see things further away than it should be. Thank you for teaching me to think laterally. Mentoring me to face truth no matter how horrible it is. To accept that not everything we want should be ours. Thanks for being cold, extending my patience. Thanks for implying that give up doesn't always mean loose. Thanks God I still have heart and brain to write these thankfulness’. And you are a good teacher indeed, without being thought you let me find the answers and conclude every material you gave.
Big thanks for you big boy. :)
Me
Saturday, 6 February 2010
bersyukurlah, wahai kalian anak-anak Indonesia
Mulai kami kecil,
- Kami tidak dititipkan ke penitipan anak atau "day care" oleh orang tua kami, kami dirawat hingga kami dirasa cukup manidiri untuk lepas dari orang tua. Kalaupun dititipkan, kami tetap dirawat oleh anggota keluarga atau orang terdekat yang juga menaruh kasih sayang sama seperti orang tua kami. Karena orang tua kami berpikir anaklah yang terpenting, bukan perusahaan tempat kerja yang menuntut orang tua mereka untuk cepat-cepat kembali bekerja dan menghasilkan uang.
- Orang tua kami selalu merawat kami dengan kasih sayang, menggendong dengan "bedhong" walau terasa lelah dipundak. Daripada di bawa seperti "tas ransel" disaat orang tua mereka terlalu sibuk untuk mengurus mereka sambil bekerja.
- Sesuatu yang sangat kerap dan menyedihkan dalam kultur barat, orang tua mereka biasa membiarkan anaknya menangis meraung2 (hanya karena masalah sepele) di tengah jalan di keramaian, berguling-guling di jalan, sampai semua orang melihat mereka (bahkan mungkin tidak lagi karena orang-orang disekitar sudah terbiasa melihatnya). Kami di perlakukan seperti layaknya anak yang berharga, dijaga, agar kami tidak sampai menangis meraung-raung. Karena orang-orang disekitar kami akan mengira orang tua kami lah yang buruk ketika kami menangis tidak karuan.
- Ketika kami mulai belajar berjalan, kami di "tetah" dengan sangat hati-hati oleh orang tua kami, di ajari pelan-pelan sampai kami bisa berjalan dengan lancar. Dan ketika kami jatuh, cepat2 orang tua kami membantu kami bangun dan berjalan lagi. Tidak seperti di barat, orang tua mereka menggunakan tali kekang (seperti binatang peliharaan) yang diikatkan pada badan anak mereka dan berjalan sambil memegangi tali kekang itu agar mereka tidak kesulitan beraktifitas sambil mengurus anak.
- Kami sering mendapatkan pelajaran "extra" di luar sekolah. Entah kursus privat, bimbel, musik, atau olah raga. Orang tua kami ingin anaknya mendapatkan banyak ilmu dan berprestasi disekolah. Tidak seperti disini, justru karena mahalnya biaya hidup dan lain-lain, sangat jarang anak-anak mereka mendapatkan tambahan pengetahuan di sekolah. Memang mungin mereka sangat cukup hanya bersekolah, tetapi hubungan sosial di luar sekolah saya kira merupakan hal yang sangat penting bagi masa depan.
- Orang tua kami selalu menanyakan hasil ulangan kami, atau bilamana kami ada PR atau tugas di sekolah (kami kadang berpikir orang tua terlalu ikut campur?). Itu untuk menunjukkan betapa mereka peduli dengan nilai-nilai kami untuk bekal kami di masa depan kelak. Disini, mereka dituntut untuk sangat mandri, bahkan terlalu mendiri untuk mengambil setiap keputusan dalam hidup mereka. Karena orang tua mereka tidak berkecenderungan membanggakan anak-anaknya dengan orang tua lain. Dimana anak Indonesia diharapkan menjadi kebanggaan orang tua nya masing-masing.
- Permasalahan kali ini cukup sensitif, masalah uang. Orang tua mereka mengatakan dengan jujur "tidak, ibu tidak punya uang" ketika anak mereka meminta uang saku hanya untuk makan atau bersenang2 di akhir pekan. Tapi saya rasa, orang tua kami, tidak ingin melihat kami kecewa dan sebisa mungkin memberi kami uang agar kami tidak kecewa dan sedih. Lagi-lagi ini karena mahalnya biaya hidup di negara barat, orang tua mereka pun sangat "itung-itungan" dalam hal uang sekecil apapun.
- Disaat anak-anak barat berumur 17 tahun, mereka sudah harus mempersiapkan segalanya untuk meninggalkan rumah orang tuanya. Mereka sudah selayaknya hidup sendiri dan bahkan membiayai uang kuliah mereka sendiri. Beberapa orang tua masih mau "meng-utangi" anak-anak mereka untuk kuliah dimana utang ini akan dibayarkan ketika mereka sudah cukup mapan dan bekerja. Kami, anak Indonesia, tidak perlu repot2 melakukan semua ini karena seluruh hidup kami memang selayaknya di support oleh orang tua kami, hingga kami dewasa.
- Anak-anak remaja disini tidak mengenal kepopuleran dan kecangihan sebuah "Blackberry-dunia dalam genggaman" :p .Blackberry atau iphone disini adalah gadget yang sangat luar biasa berharga yang tidak pantas dimiliki oleh anak2 remaja. Itu adalah handpone orang tua mereka. Menginginkannya saja mereka tidak pantas. Karena bagi orang tua mereka, anak-anak belum selayaknya mendapatkan fasilitas yang sebegitu mewah dan menyenangkan. Bersyukurlah kalian yang memiliki Blackberry, apapun tipenya. Karena anak-anak remaja disini akan terheran-heran melihat kalian memilikinya.
Monday, 18 January 2010
Which one is better?
Baru dua hari yang lalu saya kembali lagi ke brighton, Uk, untuk kembali belajar setelah liburan ke Indonesia yang cukup panjang, satu bulan.
Things happened unpredictably, uncontrolled, and shockingly. Semuanya. Mulai dari awal kedatangan saya, waktu saya bersama teman, keluarga, dan saudara, sampai detik2 terakhir saya harus kembali lagi. Di awal, sangat malas dan bosan rasanya berada di rumah. Kebiasaan saya yang sangat amat teratur di UK, orang2 yang selalu tepat waktu, semua fasilitas umum yang baik dan tersedia dengan mudahnya membuat saya selalu berpikir bahwa tinggal di UK sangat amat lebih baik dan nyaman. Saya gagal membuat jadwal bermain dengan teman2 saya di Jogja, karena waktu berjalan begitu cepat saat di UK, di akhir term ketika saya berkutat dengan tugas2 akhir sekolah yang menggila. Dan saya tidak sempat mengatur itu semua. Oke, I let everything flows. Sampai akhirnya kontrol pada diri saya hilang begitu saja dan saya lupa kalau saya tidak boleh 'overexited' dengan liburan kali ini. Saya begitu menikmati tiap pertemuan dengan kelompok2 teman yang berbeda. Mulai dari kencan dengan sahabat kyutis, Rasda Diana, sahabt kecil saya,Ira Tania, taun baru dengan anak2 padmanaba, kumpul dengan beberapa 'gang' : Slebor, Cookies, Toa, Six For Dance, dll. Anyway, TOA was the greatest part. :)
Saya inget benar betapa saya menanamkan dalam2 pada diri saya untuk tidak terlalu membesar2 kan liburan ini. i will just have A BIT fun. Tapi, pada kenyataannya?
I HAD TOOOOOO MUUUUCCCHHHH FUN. dan bisa dipastikan, sangat tidak baik bagi saya ketika saya harus kembali ke UK. Beberapa hal terasa seperti dari awal lagi, 'malas' rasanya, itu yang biasa saya katakan pada diri saya. Apalagi, saya meninggalkan sesuatu yang indah tepat disaat2 terakhir. Dan rasanya seperti waktu ingin saya hentikan saja dan tidak kembali ke UK.
Saya sangat sadar, bahwa kontrol yang ada di dalam diri saya ini sangat aktif, bahkan hyperactive, saat saya berada di UK. Karena dengan sendirinya, saya menekan diri saya untuk bisa survive sebaik mungkin. Sedangkan di jogja? Semua berjalan sangat menyenangkan dan nikmat tanpa beban dan saya benar2 'sak karepe dewe'. Hal sederhana : MOBIL. Saya sangat mencintai swift AB 1411 DA saya itu. Dibandingkan disini, dimana saya harus naik bus dan jalan kaki tiap hari? berada di jogja jauh lebih nikmat :D
Tapi dibalik semua kenikmtatan itu, saya sadar bahwa ini sedikit tidak baik bagi pembentukan karakter saya. Sangat mudah menjalani hidup di jogja, dan ketika saya terlena dengan semua itu? saya hanya akan jadi anak mami papi yang manja dan bisanya cuma bersenang2. Mo jadi apa kelak? *sigh
Tuhan ku memang ajaib :)
dibalik segala kesusahan yang saya alami, selalu saja ada makna besar yang jauh berarti dan mungkin sedikit susah untuk dipahami. Saya sadar bahwa pilihan yang saya jalani sekarang ini tidak lah salah. Sangat amat benar. Hanya saja beberapa proses menjadi sedikit lebih sulit untuk dijalani.
Well, tulisan amburadul ini hanya untuk mengingatkan saya bagaimana seharusnya saya bisa berpikir, bersikap, dan bereaksi secara jernih disaat saya sedang kalut seperti ini. Untuk seseorang yang saya harap akan membaca tulisan ini dan mengerti apa maksud saya, thanks for the beautiful moment we had :)
love u .