Pages

Monday, 17 January 2011

discomfort in the air

I don’t know if I ever felt this before. Maybe I had, other way I forgot. So here I am, 38,000 feet away from the ground on my way to get back to the UK. 8 hours from Jakarta to Dubai was totally fine. Thanks for my tired body where fortunately I could sleep all the time. The other way half way, now, is…. So hurdled. I have no idea what kind of feeling is this exactly. But this discomfort makes my head warm; or too hot indeed, my tummy ache, and none of my bone can stand still. What I am sure of, it is distracting. Well, it is not that I become so dumb that I couldn’t do eat, sleep, read, and other things like I normally do in my flights. So this strange felling is burdening me. I will simply call it ‘discomfort in the air’.

One thing I know for sure, there is something missing yet different inside. I am sick of telling my self that everything will be fine when I know they are not. Problem is, I usually have someone to talk whenever I am not feeling well. But here, inside this big aircraft far above Munich, I have to deal with myself. I did not expect this would happen, though. Everything was really fine before I entered this plane. The theory was… I am not in love and so I have nothing to be worried. But my body seems disagree, like physically and makes this strange feeling even worse because I can’t feel anything like almost suffocate. Until I realize, that I could not tell lie to my self. That I am yearning you badly and part of my body wants to stay with you. All those imperfections, impossibilities, passions to stand still, fake strengths were discounted because of you. Just to be able to spend more time, no matter how tiny they are. All those priceless time.

I sigh several times and wonder if you also feel the same like I do now. And how we are going to work this out. I have tried to prepare myself with my strongest thought and stick with my plan. But here I am, complaining how unfair is this circumstances for me. Maybe for us, if you are agree with me. Well, they say all is fair in love and war. I cannot really accept them for now. I finally give up and open my small savior note book, grab my pen and letting both of them dancing together, creating a new dance of writing and hoping that they would cheer me up a little bit :)

Written literally in the air,

For my unpredictable one

16th of January, 2011

Saturday, 3 July 2010

the rule of shopping by me


  • 1. Don’t buy stuff because they are cheap or on sale, in the other hand, afford and buy things that you are really dying wanted to even though they are amazingly expensive

    2. Distinguish NEED and WANT. Just admit it if you want

    3. If you accustomed to get things you want, think how would it feel when you couldn’t get what you want

    4. Think and remember stuffs that you had already at home. Bunch of shoes, bunch of clothes, pile of bags, and many others

    5. Hard to decide? Leave it for couple of days and if you still thinking about it every time, then have it (be honest yaa)

    6. Why don’t you save the money instead? :D

Wednesday, 12 May 2010

Gratefulness

This note is nothing to compare with your teaching really. I made it as a reminder for myself, how grateful I should be whilst experiencing things with you. Well, actually not just you, but I would say you got the biggest part of it :p

Thank you for everything. For the late chat, calls, laughs, jokes, those ‘alien’ words, and opening my eyes, that internet is not just Facebook, and Twitter :p . Thanks for the ‘business’ things we did, and helping me with its problems (which actually never gone), haha . Looking forward to bringing you another problems :D. Then beautiful days we had, and the time (relatively shorts times) we made up. The stupid silly goofy things I made, but then I learn not to regret what I’ve done. Thank you for remind me that I am more than what I could be actually, but I was just slipped and forget for a while who am I and my dreams.

Thank you for bringing me up in d top of happiness and knocked me down to the bottom of hell and show that life has two sides. Thank you for showing me that money is not always the things that give you bliss, in fact, loving and being loved is more precious (but don’t forget, we still need money tough.lol). Thank you for the (little) hart break-with no heartache (I promise :D). Thank you for depicting mean of love beyond its own meaning. Thank you for telling me not to give up easily in any ways. Including not to give you up (but then in this case I did):)
However, this is the amazing bit, thank you for pointing me to think from outside the box-how it feels if you were actually someone else, how I shall not selfish, accepting and be humble. To listen and see things closer in details, and not to judge things easily.

And after all those sweet things, thank you for letting me go, to see things further away than it should be. Thank you for teaching me to think laterally. Mentoring me to face truth no matter how horrible it is. To accept that not everything we want should be ours. Thanks for being cold, extending my patience. Thanks for implying that give up doesn't always mean loose. Thanks God I still have heart and brain to write these thankfulness’. And you are a good teacher indeed, without being thought you let me find the answers and conclude every material you gave.

Big thanks for you big boy. :)


Peace and love,
Me

Saturday, 6 February 2010

bersyukurlah, wahai kalian anak-anak Indonesia

Mungkin sebagian orang akan menganggap kalau tulisan ini dibuat hanya berdasarkan pengamatan satu sisi saja, memang benar. Bukan maksud saya menjelek-jelek kan suatu kultur atau negara lain, tapi ini hanya untuk mengingatkan betapa berharganya nilai suatu pribadi sebagai ANAK INDONESIA. Kadang kami (anak Indonesia) lupa bagaimana kami harus mensyukuri keberadaan kam dan orang tua kami. Kami sering membanding-banding kan bagaimana enaknya hidup di luar negri, bersekolah di Australia; Singapore; Amerika; atau mana saja, dengan alasan hidup yang lebih enak dan menjamin. Disisi lain, setelah saya mengamati, merasakan, dan melihat kehidupan di negri orang, spontan saya menyimpulkan : "Berbahagialah kami sebagai anak2 Bangsa Indonesia, yang dibesarkan dengan adat Indonesia oleh orang tua tercinta kami :)" Dibawah ini hanyalah beberapa kasus-kasus kecil dan sederhana dari pengalaman saya hidup di negri orang. Mereka ditulisan ini saya artikan sebagai anak2 yang dibesarkan dengan kultur barat oleh orang tuanya.

Mulai kami kecil,
  • Kami tidak dititipkan ke penitipan anak atau "day care" oleh orang tua kami, kami dirawat hingga kami dirasa cukup manidiri untuk lepas dari orang tua. Kalaupun dititipkan, kami tetap dirawat oleh anggota keluarga atau orang terdekat yang juga menaruh kasih sayang sama seperti orang tua kami. Karena orang tua kami berpikir anaklah yang terpenting, bukan perusahaan tempat kerja yang menuntut orang tua mereka untuk cepat-cepat kembali bekerja dan menghasilkan uang.
  • Orang tua kami selalu merawat kami dengan kasih sayang, menggendong dengan "bedhong" walau terasa lelah dipundak. Daripada di bawa seperti "tas ransel" disaat orang tua mereka terlalu sibuk untuk mengurus mereka sambil bekerja.
  • Sesuatu yang sangat kerap dan menyedihkan dalam kultur barat, orang tua mereka biasa membiarkan anaknya menangis meraung2 (hanya karena masalah sepele) di tengah jalan di keramaian, berguling-guling di jalan, sampai semua orang melihat mereka (bahkan mungkin tidak lagi karena orang-orang disekitar sudah terbiasa melihatnya). Kami di perlakukan seperti layaknya anak yang berharga, dijaga, agar kami tidak sampai menangis meraung-raung. Karena orang-orang disekitar kami akan mengira orang tua kami lah yang buruk ketika kami menangis tidak karuan.
  • Ketika kami mulai belajar berjalan, kami di "tetah" dengan sangat hati-hati oleh orang tua kami, di ajari pelan-pelan sampai kami bisa berjalan dengan lancar. Dan ketika kami jatuh, cepat2 orang tua kami membantu kami bangun dan berjalan lagi. Tidak seperti di barat, orang tua mereka menggunakan tali kekang (seperti binatang peliharaan) yang diikatkan pada badan anak mereka dan berjalan sambil memegangi tali kekang itu agar mereka tidak kesulitan beraktifitas sambil mengurus anak.
Lalu ketika kami remaja,
  • Kami sering mendapatkan pelajaran "extra" di luar sekolah. Entah kursus privat, bimbel, musik, atau olah raga. Orang tua kami ingin anaknya mendapatkan banyak ilmu dan berprestasi disekolah. Tidak seperti disini, justru karena mahalnya biaya hidup dan lain-lain, sangat jarang anak-anak mereka mendapatkan tambahan pengetahuan di sekolah. Memang mungin mereka sangat cukup hanya bersekolah, tetapi hubungan sosial di luar sekolah saya kira merupakan hal yang sangat penting bagi masa depan.
  • Orang tua kami selalu menanyakan hasil ulangan kami, atau bilamana kami ada PR atau tugas di sekolah (kami kadang berpikir orang tua terlalu ikut campur?). Itu untuk menunjukkan betapa mereka peduli dengan nilai-nilai kami untuk bekal kami di masa depan kelak. Disini, mereka dituntut untuk sangat mandri, bahkan terlalu mendiri untuk mengambil setiap keputusan dalam hidup mereka. Karena orang tua mereka tidak berkecenderungan membanggakan anak-anaknya dengan orang tua lain. Dimana anak Indonesia diharapkan menjadi kebanggaan orang tua nya masing-masing.
  • Permasalahan kali ini cukup sensitif, masalah uang. Orang tua mereka mengatakan dengan jujur "tidak, ibu tidak punya uang" ketika anak mereka meminta uang saku hanya untuk makan atau bersenang2 di akhir pekan. Tapi saya rasa, orang tua kami, tidak ingin melihat kami kecewa dan sebisa mungkin memberi kami uang agar kami tidak kecewa dan sedih. Lagi-lagi ini karena mahalnya biaya hidup di negara barat, orang tua mereka pun sangat "itung-itungan" dalam hal uang sekecil apapun.
  • Disaat anak-anak barat berumur 17 tahun, mereka sudah harus mempersiapkan segalanya untuk meninggalkan rumah orang tuanya. Mereka sudah selayaknya hidup sendiri dan bahkan membiayai uang kuliah mereka sendiri. Beberapa orang tua masih mau "meng-utangi" anak-anak mereka untuk kuliah dimana utang ini akan dibayarkan ketika mereka sudah cukup mapan dan bekerja. Kami, anak Indonesia, tidak perlu repot2 melakukan semua ini karena seluruh hidup kami memang selayaknya di support oleh orang tua kami, hingga kami dewasa.
  • Anak-anak remaja disini tidak mengenal kepopuleran dan kecangihan sebuah "Blackberry-dunia dalam genggaman" :p .Blackberry atau iphone disini adalah gadget yang sangat luar biasa berharga yang tidak pantas dimiliki oleh anak2 remaja. Itu adalah handpone orang tua mereka. Menginginkannya saja mereka tidak pantas. Karena bagi orang tua mereka, anak-anak belum selayaknya mendapatkan fasilitas yang sebegitu mewah dan menyenangkan. Bersyukurlah kalian yang memiliki Blackberry, apapun tipenya. Karena anak-anak remaja disini akan terheran-heran melihat kalian memilikinya.
Tapi, ketika kami dewasa,

dengan semua fasilitas dan kasih sayang yang kami dapat, tidak sepantasnya kami melupakan orang tua kami kelak seperti anak-anak barat melupakan kasih sayang orang tuanya dan menitipkan orang tua mereka di panti jompo. Kami berkewajiban memberikan kasih sayang yang minimal sama, tanpa menghitung secara matematis apa yang telah diberikan orang tua kami selama kami hidup. Dan satu hal yang sangat mudah dan wajib kami lakukan :
"bersyukurlah kepada Tuhan, anak-anak Indonesia, karena orang tua yang sangat menyayangi kalian dalam bentuk apapaun dan ucapkanlah doa untuk orang tua kalian disetiap doa kalian ♥"

Monday, 18 January 2010

Which one is better?

18 Januari, brighton, UK



Baru dua hari yang lalu saya kembali lagi ke brighton, Uk, untuk kembali belajar setelah liburan ke Indonesia yang cukup panjang, satu bulan.
Things happened unpredictably, uncontrolled, and shockingly. Semuanya. Mulai dari awal kedatangan saya, waktu saya bersama teman, keluarga, dan saudara, sampai detik2 terakhir saya harus kembali lagi. Di awal, sangat malas dan bosan rasanya berada di rumah. Kebiasaan saya yang sangat amat teratur di UK, orang2 yang selalu tepat waktu, semua fasilitas umum yang baik dan tersedia dengan mudahnya membuat saya selalu berpikir bahwa tinggal di UK sangat amat lebih baik dan nyaman. Saya gagal membuat jadwal bermain dengan teman2 saya di Jogja, karena waktu berjalan begitu cepat saat di UK, di akhir term ketika saya berkutat dengan tugas2 akhir sekolah yang menggila. Dan saya tidak sempat mengatur itu semua. Oke, I let everything flows. Sampai akhirnya kontrol pada diri saya hilang begitu saja dan saya lupa kalau saya tidak boleh 'overexited' dengan liburan kali ini. Saya begitu menikmati tiap pertemuan dengan kelompok2 teman yang berbeda. Mulai dari kencan dengan sahabat kyutis, Rasda Diana, sahabt kecil saya,Ira Tania, taun baru dengan anak2 padmanaba, kumpul dengan beberapa 'gang' : Slebor, Cookies, Toa, Six For Dance, dll. Anyway, TOA was the greatest part. :)
Saya inget benar betapa saya menanamkan dalam2 pada diri saya untuk tidak terlalu membesar2 kan liburan ini. i will just have A BIT fun. Tapi, pada kenyataannya?
I HAD TOOOOOO MUUUUCCCHHHH FUN. dan bisa dipastikan, sangat tidak baik bagi saya ketika saya harus kembali ke UK. Beberapa hal terasa seperti dari awal lagi, 'malas' rasanya, itu yang biasa saya katakan pada diri saya. Apalagi, saya meninggalkan sesuatu yang indah tepat disaat2 terakhir. Dan rasanya seperti waktu ingin saya hentikan saja dan tidak kembali ke UK.

Saya sangat sadar, bahwa kontrol yang ada di dalam diri saya ini sangat aktif, bahkan hyperactive, saat saya berada di UK. Karena dengan sendirinya, saya menekan diri saya untuk bisa survive sebaik mungkin. Sedangkan di jogja? Semua berjalan sangat menyenangkan dan nikmat tanpa beban dan saya benar2 'sak karepe dewe'. Hal sederhana : MOBIL. Saya sangat mencintai swift AB 1411 DA saya itu. Dibandingkan disini, dimana saya harus naik bus dan jalan kaki tiap hari? berada di jogja jauh lebih nikmat :D
Tapi dibalik semua kenikmtatan itu, saya sadar bahwa ini sedikit tidak baik bagi pembentukan karakter saya. Sangat mudah menjalani hidup di jogja, dan ketika saya terlena dengan semua itu? saya hanya akan jadi anak mami papi yang manja dan bisanya cuma bersenang2. Mo jadi apa kelak? *sigh

Tuhan ku memang ajaib :)
dibalik segala kesusahan yang saya alami, selalu saja ada makna besar yang jauh berarti dan mungkin sedikit susah untuk dipahami. Saya sadar bahwa pilihan yang saya jalani sekarang ini tidak lah salah. Sangat amat benar. Hanya saja beberapa proses menjadi sedikit lebih sulit untuk dijalani.
Well, tulisan amburadul ini hanya untuk mengingatkan saya bagaimana seharusnya saya bisa berpikir, bersikap, dan bereaksi secara jernih disaat saya sedang kalut seperti ini. Untuk seseorang yang saya harap akan membaca tulisan ini dan mengerti apa maksud saya, thanks for the beautiful moment we had :)
love u .

Tuesday, 20 October 2009

Nasionalisme ?

Entah kenapa tiba2 saja terbesit dalam benak saya untuk menuliskan ini, saya siap dengan semua komentar orang, entah otu pro atau kontra, yang jelas, saya benar2 tidak bermaksud negatif dengan menuangkan pikiran saya ini, murni, hanya karena saya ingin berbagi dengan anda semua.
:)

Melihat pengalaman teman2 saya yang menimba ilmu di luar negri, mereka tampaknya sangat cinta Indonesia, walaupun ada disana,beberapa malah tampak kurang enjoy, dan ada juga yang bersikukuh akan kembali ke Indonesia suatu saat nanti. Juga, seseorang pernah berkata : "Nasionalisme ku bertambah saat aku sekolah diluar".... Hmmm, hal hal itu 'nggak begitu' terjadi sama saya. Bukannya saya ngga Nasionalis, saya tetap cinta Indonesia saya(well, at least saat ini), dan jogja tentunya,the best city ever!:D tapi melihat kenyataan kalau hidup disini memang lebih teratur dan nyaman untuk saya, kenapa tidak, pikir saya? Mungkin saya memang tidak mengikuti pelajaran PPKn saat SD dan SMP dengan baik , tapi beginilah kenyataannya... Saya tidak menutup kemungkinan pada diri saya untuk tinggal tidak di Indonesia kelak dan bahkan untuk menetap tinggal disini, bekerja dan berkarya. Ada beberapa hal yang saya lebih suka disini, dan ada beberapa hal pula yang saya suka di Indonesia.Semua tempat, saya rasa punya sense of comfortable nya masing2, dan mungkin, saat ini, saya sedang mengalami proses nyaman di sini, UK. Dan pemikiran saya ini, tentu saja masih bisa berubah sesuai dengan rencana-Nya yang indah.

Saya sangat bangga menjadi warga negara Indonesia saat ini, menilik di kelas tempat saya belajar sekarang, bahkan sekolah saya, hanya saya yang mempunyai gambar garuda di paspor saya. Kadang saya merasa menjadi alien dikelas,saat teman2 saya berbicara dengan bahasa mereka masing2. Karena 6 dari mereka rusian, 4 chineese, 3 korean dan satu saya dan seseorang yang bekerja di sekolah saya (dimana dia jarang masuk kelas). Tapi dibalik itu, saya merasa bengga dengan keasingan saya, anggap saja saya unik dan langka, hahaha...
Beragam kewarganegaraan ada di sekolah saya, dan tiap saya menyebutkan saya berasal dari Indonesia, mereka selalu bilang : "waooow, thats great". Entah apa maksud dibalik 'great' itu... Bali lebih terkenal daripada Indonesia sendiri, memang benar. Mereka sangat tau bali, dan mereka selalu mengatakan Indonesia sangat nyaman karena disana hangat, tropis maksudnya. Dan saya selalu berkata , itu pula yang membuat orang2 Indonesia 'hangat' dalam bermasyarakat, well khususnya orang2 Jawa yang sangat friendly, jauh berbeda dengan orang disini :)
Saya sempat berpikir untuk menimba ilmu disini dan kembali ke Indonesia untuk mencoba mengembangkan Indonesia ke arah yang lebih baik , contoh konkret yang saya inginkan : pariwisata. Tempat2 pariwisata disini tidak lebih bagus dari Indonesia sebenarnya, tapi orang2 me manage nya dengan sangat baik dan nyaman sehinggga membuat banyak orang tertarik untuk datang. Melihat sumber daya nya, Indonesia jauuuuh memiliki potensi yang lebih besar. Bukan kah itu lahan bisnis yang menggiurkan saudara2 ?

Tentunya hal itu tidak mudah dicapai, saya tidak mungkin bekerja sendiri dengan ide saya ini, dan tentunya kerja keras adalah hal yang utama. Tapi sayangnya, saya tidak punya cukup nasionalisme untuk mempertahankan misi saya itu. Banyak hal yang saya pertimbangkan seperti besarnya modal, sulitnya dukungan dari pemerintah,masalah birokrasi, dll.. Ditambah lagi dengan mudahnya mencari kerja disini (sesuai teori dimana pemerintah disini benar2 bertanggung jawab penuh dengan pengangguran), mereka akan sangat peduli dengan lulusan2 baru. Dengan asumsi saya akan lebih 'makmur' disini, saya memilih untuk tinggal disini (belum untuk menetap). Memang mungkin orang2 mengira hal ini terlalu dini buat saya, tapi saya rasa, justru inilah yang terpenting, jadi saya benar2 tau apa misi saya dan langkah apa yang harus saya ambil untuk mendukung misi saya disini.Saya benar2 tidak mau membuang waktu dan uang banyak2, hidup disini tidak murah. Memang dunia kerja baru akan saya rasakan 3 taun lagi paling cepat. Tapi saya rasa renungan ini cukup penting untuk saya pikirkan matang2.


Jadi, saudara2,mungkin saya malah membingungkan anda sekalian dengan cerita2 tambahan yang tidak terlalu beresensi, dan inti dari pertanyaan yang ada dibenak saya, apakah pemikiran saya ini benar(sebagai warga negara Indonesia yang baik tentunya) dengan menimbang alasan2 yang saya temukan disini?
Komentar anda sekalian sangat saya harpakan untuk membantu saya mengarah ke jalan yang benar.Terimakasih sebelumnya .:)


Salam hangat,
Ditulis oleh saya (Josephine Vanda Tirtayani)
di UK, Brighton
20 Oktober 2009 :)

Sunday, 20 September 2009

Blog khusus intuk teman2 Indonesia ku :)

hmmm....

Tepat 2 minggu aku disini, di Brighton ,kota kecil yang nyaman. Yang memang tidak terkenal, di United Kingdom ini, tapi cukup mudah menerangkannya kepada orang2 : "satu jam dari London, di sebelah selatannya", entah sudah berapa puluh kali aku mengucapkan kalimat itu , dengan intonasi dan gaya bicara yang selalu sama .
hihi.
Memang jauh kelihatannya, well, kenyataannya juga begitu,15 jam perjalanan dari Jakarta. Dan sampai sekarang, aku tetap saja bertanya tanya, kenapa orang2 menganggap itu sebuah masalah besar. Masalah jarak dan jauh. Dimanapun aku akan sekolah, entah Australia atau Singapore, bahkan Amerika, tetap saja aku akan berpisah dengan orang orang terdekat, keluarga, teman, saudara, dan rumah, yang telah membimbingku besar, sampai sekarang aku bisa menulis blog ini. Dan kita pasti akan berpisah pada waktu yang cukup lama. Dan tidak ada cara lain untuk bertemu , selain terbang naik pesawat. Sama sama naik pesawat....
Satu hal yang membuatku terus tidak mempermasalahkan jarak : "walaupun aku hanya di Australia, atau Singapura sekalipun yang dekat, tetap saja tidak mungkin pulang sebulan sekali ,atau 3 bulan sekali, bukan ?" :)


2 minggu memang terasa "sedikit" lebih lama dari biasanya, mulai beradaptasi dengan keluarga baru, lingkungan baru, sekolah baru, makanan baru, dan CUACA baru ...
Mereka bilang sekarang ini panas, aku merasa dingin, entah bagaimana nasibku nanti di musim dingin :p
Oh, satu hal yang paling penting : TEMAN BARU.
Rasanya kali ini sedikit berbeda, tidak sama ketika aku Playgroup-TK-SD-SMP, dengan teman yang 80% sama, karena satu sekolahku satu yayasan : Tarakanita.
Puji Tuhan , aku sudah sedikit banyak belajar menghadapi lingkungan baru di sekolah saat SMA, dimana hanya 7 orang di SMP ku, yang melanjutkan ke SMA 3..... Yang artinya, aku harus beradaptasi dengan teman lain yang latar belakangnya jauh berbeda. Berbicara tentang perbedaan latar belakang akan sangat panjang, jadi anggap saja 'beda'.

Aku kembali teringat di minggu pertama aku masuk SMA 3, ingin sekali rasanya keluar dari sana , dan bersekolah di SMA Stella Duce 1 saja, dimana mayoritas teman wanita SMP ku bersekolah disana, lagipula , saat itu aku masih punya peluang yang sama seperti anak lain untuk masuk ke SMA Stece 1, aku masih punya kursi, dan bahkan seragamnya, karena saat itu orang tua ku 'mencadangkan' Stece 1 untukku . SMA 3 seperti neraka di minggu2 pertama, rangkaian acara yang berjudul PPLB, adalah momok terbesar ku saat itu , aku samasekali tidak tau, apa itu PPLB, bahkan , lokasi SMA 3 pun aku baru tau saat pertama mendaftar :p
yang aku tau saat itu, SMA 3 adalah SMA terbaik di Jogjakarta, hanya itu.
waktu berjalan, aku berusaha membuat diriku kuat dengan berbagai cobaan yang ada di PPLB
dan..... Aku berhasil melewatinya. Kemudian aku mulai mencari teman baru, karena 5 teman ku dari SMP Stece masuk axel, dan itu artinya, aku satu satunya anak SMP Stella Duce di SMA 3 di kelas X1... :(
waktu berjalan , dan aku tak ingat betul bagaimana aku mendapat teman pada waktu itu. Yang aku tau sekarang, teman2 ku Padmanaba adalah keluarga terbaik yang pernah ada (sampai saat ini), dan kembali mengingat prosesku saat ingin keluar dari SMA 3, hanya membuatku tertawa geli.... ;)

Entah kenapa, kejadian itu serupa dengan nasibku disini, sekarang ini. Hanya ada 13 anak di kelasku , Diploma in Business & Management.. dan sampai saat ini, ada 2 orang yang belum hadir karena masalah visa.Dan mereka yang sudah ada,antara lain : 3 chinese, 3 rusian, 3 korean, dan 1 columbian yang bekerja di tempatku bersekolah itu (memang aneh, tapi begitulah), dan 1 aku, anak Indonesia-Padmanaba 64.
Dan itu artinya (lagi) : aku satu satu nya anak Indonesia di kelasku, bahkan di sekolahanku, karena sampai saat ini aku belum bertemu anak Indonesia lainnya.
Pertemanan ini bukan masalah besar bagiku, mereka cukup friendly, dan asik asik saja. Hanya saja, aku akan mulai sedikit BT saat mereka mulai berbicara dengan bahasa mereka sendiri2..
-________-
Hihi, tapi ini tak sampai membuatku ingin keluar dari Bellerbys (nama sekolahku), dimana aku tak ingin mentertawakan diriku sendiri lagi kelak, saat aku sudah menyelesaikan taun pertama disana. Dan itu adalah sesuatu yang tak masuk akal. :)

Lagipula, aku punya 2 teman dekat dari Korea dan China, hanya saja kami semua di kelas yang berbeda. Dan menurutku itu lebih baik , jadi aku terus berlatih berbahasa Inggris dengan mereka, daripada aku lebih banyak berbicara bahasa Indonesia disini....
Dan satu hal lagi, peristiwa ini sungguh memiliki makna tersembunyi yang baik, karena dengan begitu, posisi teman teman terbaik Indonesia ku di Indonesia takkan tergantikan dengan teman Indonesia lain disini, tetap di Indonesia (saja)..
mesikpun tanpa adanya 'peristiwa' ini, mereka tetap tak akan tergantikan :)
dan entah mengapa, aku sangat enjoy menikmati waktuku sendirian meng explore indahnya kota Brighton ku yang kecil dan unik .


tertulis dengan sedikit doa :

Terimakasih Tuhan , atas segala berkat-Mu ini, mana berani aku mengeluh dengan semua masalahku, sedangkan Kau sudah memberiku begitu banyak berkat , rezeki, dan anugrah, sampai aku bisa ada disini?
Amin.